“Bencana Alam”
Dalam Hangat pelukan mentari.
Diri terbalut mendung keresahan.
Resah bila bumi tak sudi lagi dipijak.
Resah jika laut tak mampu lagi memikul airnya.
Resah jika gunung tak sanggup lagi berdiri tegak.

Air mata ini belum lagi kering.
Puing-puing derita masih tercicir disepanjang jalan.
Terdengar lagi jeritan saudaraku disana.
Terdengar lagi jeritan teman-temanku disana.
Terdengar lagi jeritan para sahabat-sahabatku disana.
Bencana, bencana dan bencana…

Tak henti-hentinya menggoreskan duka.
Apakah ini suatu cobaan?
Ataupun Peringatan?
Ataukah azab Tuhan?
Fikirkanlah..
Renungkan lah..
Dan bertaubatlah selagi mentari pagi masih memanancar sinarnya..

 
“Banjir Lagi..”

Lihatlah kami disini.
Berteman banjir setiap hari.
Berjalan menuju tempat pengungsian.
Mencari tempat perlindungan..

Lihatlah generasi muda bangsa.
Yang berteman banjir kesekolahnya.
Menggenangi beranda dunia.
Tapi mereka tetap merintis mimpi dunia..

Anak-anak SD yang tiada tahu apa-apa.
Akan kerakusan para pemilik kuasa.
Membabat hutan dengan jumawa.
Tertawa ditempat istananya..

Namun roda ekonomi terus berlari.
Tiada perduli akan kebanjiran ini.
Dan tetap berteman genangan air.
Dari terbit fajar hingga mentari berakhir..

Salah siapa ini terjadi.?
Para pemilir disana terus berkata.
Banjir menyebabkan kita merugi.
Sambil duduk tenang ditempat hangatnya..

Uluran tangan para penderma.
Terasa kurang dan tiada merata.
Dan pemerintah hanya berusaha.
Namun banjir tahunan tetap melanda..

Banjir yang merugikan.
Genangan air yang menyengsarakan.
Namun langkah kaki manusia.
Tetap terperosok di jalan yang sama..
Berfikir kembali dan terdiam.
Aku termangu dalam kelam..

 
 
“Situ Gintung”

Tujuh puluh sembilan tahun silam.
Engkau diciptakan oleh penguasamu.
Untuk mensejahterakan, lewat airmu.
Kini..
Engaku telah rusak.
Wajah ayumu nan sirna.
Engkau dijajah.
Dipaksa untuk muram.
Airmatamu tak kuasa kau bendung.
Murkamu kau tumpahkan pada orang yang tak berdosa..

Situ Gintung, taukah kamu..
Kau marah pada orang yang salah.
Kau murka pada orang yang tak berdosa.
walaupun aku tau itu hanya peringatanmu.
Kemurkaan dan keangkaraan manusia..

Situ Gintung, aku tau kau murka.
Karena Tuan-tuanmu hanya memikirkan kampanye.
Tuan-tuanmu hanya memikirkan kursi-kursi yang empuk.
Hingga tak memperhatikanmu..

Situ Gintung.. 
Pikirkan tindakanmu itu.
Sawah ladang yang kau airi telah tumbuh menjadi gedung nan tinggi.
Kini..
Kau luluh lantakkan dengan murkamu.
Puaskan dirimu situ gintung..

Sekarang kau manja. 
Kau senyum-senyum, kau suka, kau puas..
Setiap umat di seluruh dunia memperhatikanmu.
Melirikmu, menyapamu, memanjakanmu..
Bahkan Presiden dan para mentrinya menyambangimu..

Semua orang ingin menengokmu, kecuali aku..
Karena aku tau.
Kau hanya SITU GINTUNG.
Sebuah bendungan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia.
Dan wajar kalau dirusak pula oleh tangan-tangan manusia..
Cuma menyesal Tung Gintung..
Kenapa orang-orang tak berdosa menjadi korbanmu?

Advertisements